Peran Seni Lukis Sebagai Bagian Terapi Seni

 

Seni lukis merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah peradaban manusia. Hal ini terbukti dari berbagai peninggalan sejarah berupa artifak, mural maupun lukisan-lukisan lainnya, baik yang bersifat prasejarah maupun yang lebih modern berupa portrait, abstrak, dan lain-lain. Hingga kini, di era yang serba modern, seni lukis semakin diakui eksistensi dan peranannya. Peran seni lukis sebagai salah satu bagian terapi seni (art therapy) pun telah diakui dan diterapkan selama ratusan tahun sebagai suatu bentuk pengobatan non-medis untuk membantu kesehatan emosional maupun fisik berbagai jenis pasien, mulai dari penderita depresi, Alzheimer, acute memory loss, trauma, sakit fisik, dan lain-lain. Bruce L. Miller, seorang Clinical Director dari UCSF bahkan menyebutkan bahwa sekedar duduk dan memandangi lukisan adalah sebuah kegiatan yang jauh lebih aktif daripada yang diasumsikan oleh banyak orang, dan kegiatan tersebut dapat menimbulkan efek yang positif terhadap kesehatan otak.

 

Banyak forum yang membicarakan tentang terapi seni lukis (Painting Theraphy) dan banyak sekali percakapan dan diskusi mengenai pengalaman yang dilalui oleh masing-masing individu yang menjalani terapi tersebut. psykopaint.com memaparkan sebuah artikel berisi contoh kasus terapi seni lukis pada Jackson Pollock, seorang pelukis yang terkenal melalui teknik melukisnya yang khas, yaitu menyerupai gerakan monyet yang sedang marah. Jackson Pollock adalah seorang alkoholik yang – atas saran dokter-dokternya – menggunakan seni lukis sebagai bagian dari Psychoteraphy yang dijalaninya untuk membantunya mengendalikan emosi. Akibat dari keunikan gayanya serta lukisannya, pada tahun 1956 majalah TIME menamakannya Jack The Dripper.

 

Seni lukis juga berperan dalam membantu seseorang melalui masa sulit dalam hidupnya yang diakibatkan oleh kehilangan seseorang yang dicintai. Pablo Picasso adalah salah satu contohnya. “Blue Period” merupakan masa di tahun 1901-1904, dimana lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh Picasso semuanya berwarna biru gelap dan menimbulkan rasa sedih dan kelam. Masa ini adalah masa dimana dirinya mengalami kesedihan yang sangat mendalam atas kepergian sahabatnya yang meninggal dunia.

 

Contoh yang lain adalah Vincent Van Gogh. Ia adalah penderita depresi dan bipolar disorder yang juga menggunakan seni lukis sebagai bagian dari terapinya. Salah satu hasil karya lukisnya yang paling terkenal adalah “Starry Night” 1889, terinspirasi dari jendela rumah sakit jiwanya di Saint-Re`my, Perancis.

 

Sebuah artikel yang ditulis oleh Michael Samuels, MD dan Mary Rockwood Lane, PhD. yang dimuat di utne.com dengan judul Art Therapy: Painting to Heal mengisahkan tentang seorang wanita yang menghadapi masa sulit dalam hidupnya, dimana ia tak mengenal dirinya sendiri dan menjauhi semua orang yang dia kenal. Sampai kemudian dia bertemu dengan seorang teman yang memiliki art studio dan membangkitkan kembali makna kebahagiaan dalam hidupnya. Dia melukis di kanvas yang besar dan dia sebenarnya tidak tau apa yang dilukis tetapi dia tau bentuk dan warna yang tergambar adalah ungkapan dari kesedihan dan rasa sakit yang dia alami.Terapi seni lukis pun menjadikannya merasa lebih baik, membuatnya merasa hidup kembali.

 

Saya pribadi adalah seorang penikmat seni lukis yang juga seorang pelukis. Saya mengetahui betul bahwa sebuah karya seni bukanlah sekedar hiasan belaka, melainkan mengandung berbagai makna, baik bagi sang pelukis maupun penikmat lukisan tersebut. Saya paham bahwa pada dasarnya pelukis ingin menyampaikan sebuah pesan, namun tidak ada kata-kata yang bisa mewakili keadaan jiwanya diwaktu tersebut, sehingga hanya lewat warna dan bentuk dia dapat menyampaikan pesannya tersebut kepada orang lain. Saya pun pernah mengalami keadaan dimana lukisan telah berperan besar dalam membuat saya merasa lebih baik dan sehat secara emosional (batin) maupun fisik (lahir). Sejak mengalami hal tersebutlah saya terdorong untuk belajar melukis.

 

Melukis melibatkan proses pembelajaran emosional. Salah satunya adalah belajar untuk lebih fokus kepada pesan yang ingin diekspresikan dan disampaikan. Dan dalam berbagai kasus, kesempatan untuk menyalurkan apa yang dirasakan melalui kegiatan melukis di kanvas membuat pelukis merasa rileks dan stress menghilang. Seperti halnya saya, ketika melukis, saya larut dalam alur-alur kuas saya.

 

Melukis juga melibatkan proses belajar untuk bersabar, memperhatikan setiap detail dalam lukisan, belajar untuk menjadi lebih baik, untuk memperbaiki kesalahan dan mengatasi rasa kecewa dengan membangkitkan ide lain dengan tidak merubah pesan dari karya yang ingin dihasilkan. Melukis pun mendorong seseorang untuk bisa mengatur dan lebih menghargai waktu, memperhatikan kesehatan fisik, serta membuat keputusan. Bagi saya, melukis juga mengajarkan saya untuk merasa puas dengan hasil akhir – dengan segala kekurangan dan kelebihan lukisan saya. Melukis pun mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan bahagia karena telah berhasil menciptakan hasil karya – yang saya harapkan bisa dinikmati dan diambil hikmahnya oleh banyak orang.

 

Bagi rekan-rekan yang tertarik untuk melukis, berbagai sumber seperti buku, majalah serta video tentang melukis bagi berbagai level (pemula – ahli) yang banyak terdapat di Youtube sangat baik untuk digunakan. Ikut serta dalam kelas-kelas melukis (Painting Classes) juga merupakan langkah yang tentunya akan berperan besar dalam meraih hasil yang diinginkan. Satu hal yang harus selalu diingat, yaitu bahwa yang terpenting adalah: Prosesnya. Selamat melukis!

 

 

Ditulis oleh Kontributor ICMI NA: Carolieta Arti

 

Narasumber:

http://www.goodtherapy.org/blog/creative-healing-frequently-asked-questions-about-how-art-therapy-works-0722135

http://www.psykopaint.com/

http://www.utne.com/arts/art-therapy-ze0z1311zcalt.aspx

 

 

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *