Telling Islam To The World – Part 10

Telling Islam to the world- sepuluh
Imam Shamsi Ali*

Mengakui potensi kebaikan pada orang lain itu adalah sikap hakim (bijak). Menihilkan potensi pada orang lain adalah “al-jahl” (kebodohan), sekaligus arogansi seperti yang disampaikan terdahulu.

Oleh karenanya telling Islam to the world memerlukan sikap ini. Sikap tawadhu yang selalu mengedepankan “nilai positif” orang lain di sekitar kita. Mugkin inilah yang diekspresikan oleh Rasulullah SAW: “saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Dengan kata lain, Rasul tidak meniadakan sepenuhnya nilai-nilai positif yang ada pada orang lain. Tapi Islam, sebagai petunjuk sempurna, didatangkan untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada.

 

Meneruskan kebaikan

Ini juga menegaskan kembali bahwa kehadiran Islam di sebuah tempat tidak perlu diartikan sebagai “buldozer” yang meruntuhkan segalanya, termasuk bangunan yang sudah ada. Justeru Islam datang untuk memperbaiki, menata, menguatkan, membersihkan, dan seterusnya.

Dengan kata lain, Islam datang untuk meneruskan berbagai kebaikan yang manusia telah bangun, atas dasar apapun. Mungkin bukan atas dasar agama, tapi atas dasar fitrah kemanusiaan itu sendiri.

Ambillah sebagai misal penjagaan keseimbangan alam oleh penduduk tradisional di Afrika atau di Brazil. Mereka sadar akan urgensi menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Karena eksploitasi alam menjadi penyebab berbagai kerusakan lainnya. Gempa bumi, tsunami, dan pergeseran climate (climate change) saat ini terjadi karena eksploitasi alam oleh manusia.

Sikap seperti ini tanpa disadari adalah sikap yang secara esensial Islami. Rasul begitu peduli dengan alam. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun alam harus dijaga. “Jangan membunuh binantang, jangan memotong pepohonan, jangan meracuni sumur” antara lain nasehat beliau.

Dakwah kemudian mengindentifikadi celah kekurangannya. Kekurangan-kekurangan itulah yang menjadi tugas dakwah untul menutupinya. Bukan melabrak dan merusak aspek kehidupan yang telah baik.

Contoh di atas mungkin akan lebih relevan ketika para Walisongo menyampaikan Islam Nusantara. Dengan pendekatan positive (positive approaches) melalui kultur dan tradisi positif warga Nusantara, Islam terpenetrasi ke dalam kehidupan tanpa menakutkan. Masyarakat tidak perlu merasa terancam dengan kehadirannya. Justru Islam menjadi penyempurna keindahan karakter manusia Nusantara yang secara prinsip Islami.

Kalau pendekatan ini juga kita tarik ke dunia Barat maka Islam akan terpanetrasi secara pasti, dan tidak akan terlalu menjadi momok yang menakutkan. Karena secara esensi banyak nilai-nilai di dunia Barat yang telah Islami. Dari keterbukaan, rasionalitas, etos ilmu dan kerja, persahabatan (friendly attitude), hingga kepada akutabilitas publik pemerintahannya.

Kalau semua itu dilihat sebagai bagian dari Islam maka masyarakat umum tidak akan terlalu “ketakutan” dengan kehadira Islam. Sebaliknya Islam akan dilihat sebagai kontributor positif dalam membangun peradaban manusia.

Yang masalah kemudian ketika kehadiran Isam itu ditampilan sebagai antitesis dari karya-karya kebaikan orang lain. Seolah karya baik itu jika bukan kita yang melakukannya maka sudah pasti salah dan harus dimusnahkan.

Bahayanya penyakit ini nampak dalam tubuh umat, khususnya para da’i. Sehingga karakter pengakuan kebaikan orang lain begitu berat. Sebaliknya karya positif orang lain akan dilihat “negatif” hanya karena datangnya bukan dari kita.

Padahal Rasul sendiri mengingatkan: “Al-hikmatu Dhoolatul mukmin. Annaa wajadaha fahuwa ahaqqu biha” (hikmah adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman. Dari mana saja anda menemukannya ambillah karena orang beriman itu lebih berhak memilikinya).

Mengambil artinya ikut memilikinya dan memberikan kontribusi untuk menjadikannya lebih baik. Bukan menekan, merusak, bahkan mengingkarinya.

Bersambung

* Presiden Nusantara Foundation

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *