Haji dan Kematangan Iman

Oleh: M. Syamsi Ali

Saat ini jutaan umat Islam bergegas menuju tanah suci untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, beribadah haji. Berbagai persiapan tentunya dilakukan karena memang ibadah ini memerlukan persyaratan 'kemampuan' (al-istitho'ah), baik dalam hal finansial dan fisik, maupun dalam hal persiapan ilmu dan yang lebih penting lagi persiapan mental spiritual.

Merupakan konsensus umat bahwa haji merupakan kewajiban atas semua Muslim yang telah memenuhi persyaratan kewajiban tersebut. Bahkan haji sebagaimana disebutkan di atas adalah salah satu rukun Islam yang lima. Sebagaimana disabdakan oleh rasulullah SAW: “Islam didirikan di atas lima dasar: syahadah laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadan Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadan dan berhaji be Baitullah bagi siapa yang mampu” (hadits). Kewajiban ini telah ditetapkan sebagan rukun terakhir dan hanya sekali dalam seumur manusia.

Ketika rasulullah SAW menyampaikan perihal kewajiban ini dengan sabdanya 'Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu berhaji”, ada seorang sahabat bertanya: 'apakah setiap wahai Rasulullah?'. Beliau diam. Sang sahabat bertanya lagi. Beliau kembali diam. Setelah bertanya ketiga kalinya, beliau menjawab: 'kalau saya katakan iya, maka wajib (setiap tahun)'. Artinya, tidak perlu ditanya berapa kali kalau itu tidak disebutkan. Lakukan saja, dan anda telah melepaskan kewajiabnnya. Saya tidak bermaksud membahas permasalahan hukum-hukum fiqh dari pelaksanaan ibadah haji ini. Saya sekedar ingin mencoba melihat lebih jauh makna-makna ibadah haji dalam proses menuju kepada kematangan iman seseorang. Arti haji Kata haji berasal dari kata 'hajja-yahijju-hijjun' (kata benda) atau 'hajja-yahujju-hajjun' (kata sifat). Kedua kata ini dapat diartikan 'melakukan perjalanan jauh'.

bersambung....