Telling Islam To The World – Part 3

Telling Islam to the world – part 3
Ditulis Oleh: Imam Shamsi Ali*

 

Gerakan Telling Islam to The World tidak dimaksudkan sebagai upaya “konversi” atau mengislamkan orang lain. Dakwah sesungguhnya tidak dimaksudkan mengislamkan non Muslim. Tapi lebih kepada “tablig” (menyampaikan) apa Islam itu sesungguhnya. Mungkin dalam bahasa Al-Quran: “Tidak ada kewajiban atas kamu kecuali sekedar menyampaikan”.

Menerima Islam sebagai agama dan jalan hidup itu memang di luar batas kemampuan manusia. Pemahaman ini menjadi bagian dari keyakinan Islam bahwa sesungguhnya hidayah itu sepenuhnya ada di tangan Allah SWT. “Sesungguhnya Allah menunjuki siapa yang Dia kehendaki”.

Oleh karenanya fokus umat ini sesungguhnya ada pada bagaimana menyampaikan Islam, baik dalam kata maupun karya. Kecenderungan untuk memaksakan keyakinan kepada orang lain, tidak saja bertentangan dengan tabiat keimanan yang seharusnya datang dari kesadaran hati. Tapi pemaksaan iman juga merupakan pelanggaran terhadap Islam itu sendiri.

laa ikraaha fid dien” (tiada paksaan dalam agama) adalah bentuk penegasan bahwa keyakinan itu sangat tegas dilarang untuk dipaksakan.

Sayang bahwa masih ada kesalahpahaman di kalangan orang lain jika Islam itu disebarkan dengan pemaksaan dan kekerasan. Padahal Islam sendiri secara tegas melarang hal tersebut.

 

Bahasa kaum

Ditegaskan dalam Al-quran bahwa setiap rasul dengan bahasa kaumnya (bi lisaani qaumih). Kata “lisaanul qaum” menegaskan urgensi metode dakwah yang “updated” dan “innovative“.

Penegasan “bil-hikmah” dalam dakwah juga sesungguhnya menggaris bawahi urgensi “lisaanul qaum“. Karena metode penyampaian kebenaran yang tidak sejalan dengan “pemahaman lingkungan” bisa berbalik sebagai “rintangan” (obstacle) terhadap dakwah itu sendiri.

Di sinilah kemudian menjadi sangat krusial dan bahkan menjadi kebutuhan mendasar bagi para du’at dalam memahami lingkungan dakwahnya. Baik itu dalam kultur, keadaan sosial, bahkan keadaan politiknya.

Bahkan lebih jauh berdakwah dengan bahasa kaum (lisaanul qaum) menuntut lebih dari sekedar paham. Bahkan lebih dari itu jika memungkinkan kiranya para du’at mengambil bagian dari kehidupan kaumnya. Tentu dengan catatan jelas, jika kehidupan itu masih dalam batas-batas yang diiyakan oleh Islam (huduud Allah).

Di sinilah saya kemudian mendorong komunitas Muslim di Amerika untuk mempercepat proses “integrasi” ke dalam masyarakat Amerika. Saya ingin segera melihat komunitas Muslim di negara ini menjadi pejabat tinggi (kongressman atau bahkan presiden), politisi, pebisnis, pendidik, tentara, jurnalis, polisi, FBI and CIA agents, dll.

Obsesi saya itu semuanya tidak terlepas dari pemahaman dakwah secara utuh. Bahwa dakwah bukan sekedar seperti yang dipahami secara konvensional. Melainkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, yang nantinya, walaupun tidak menyampaikan Islam tapi Islam secara alami telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

Inilah pemahaman saya tentang: “dan siapakah yang lebih baik dalam kata daripada orang yang mengajak ke jalan Allah, beramal saleh dan berkata: sesungguhnya saya adalah bagian dari orang-orang Muslim”.

Bahwa dakwah itu adalah terlibat langsung dalam menyampaikan Islam melalui “amal saleh” (karya-karya dan peradaban). Maka dengan sendirinya terjadilah “jaa-al haq wa zahaqa al bathil“. Bahwa dengan menyalakan lilin, kegelapan akan hilang dengan sendirinya.

Dakwah yang seperti ini saya yakin yang dibutuhkan dunia kita. Dakwah yang merangkul, menggembirakan (tabsyir), dan mengedepankan kasih sayang (rahmah). Sehingga dalam prosesnya tidak atau minimal mengurangi rasa takut dan kebencian.

Dan itu pula bagian dari langkah-langkah gerakan “Telling Islam to the world” yang kita luncurkan di Indonesia bulan Desember lalu.

Peluncuran gerakan ini di Indonesia sesungguhnya juga tidak terlepas dari sejarah datangnya dan berkembangnya Islam di Nusantara. Yaitu dengan katakter pelaku bisnis Muslim, baik mereka yang dari Yaman maupun mereka yang Gujarat (India). Dengan karakter Islamnya mereka telah menaklukkan jiwa-jiwa manusia Nusantara yang menjadikan Nusantara adalah kawasan dengan penduduk Muslim terbesar dunia.

Saya sangat yakin jika saja gerakan Islam itu berbasis karakter Islami, dengan akhlaqul karimah, maka Islam akan hadir sebagai perubahan positif dalam dunia yang digeluti kegelapan (zhulumat). Terlebih lagi jika Islam dihadirkan dengan nilai-nilai luhur yang tinggi dan dahsyat itu, saya yakin dunia Barat akan sangat mudah membuka diri. Karena ternyata nilai-nilai sosial dunia Barat itu sudah banyak yang berkarakter Islam, walaupun dengan bungkusan lain.

Dengan demikian, ketika Islam datang dengan karakter aslinya, akan terjadi pertautan harmoni yang dahsyat. Toh Islam tidak datang untuk menghancurkan bangunan positif orang lain. Sebaliknya Islam datang untuk menyempurnakan hal-hal yang sudah positif.

Atau dalam bahasa Rasul: innama buitstu li utammima makaarimal akhlaq (sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia). Semoga!

* Presiden Nusantara Foundation USA

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *