Ilmu Menjadi Bekal Untuk Bersabar

Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, dan umatnya yang setia meniti jalannya hingga akhir zaman.

Kesabaran merupakan faktor pendukung terbesar dalam segala hal. Dan pengetahuan terhadap sesuatu baik secara ilmu maupun pengalaman merupakan faktor pendukung kesabaran.

Prinsip ini merupakan formula yang sangat bermanfaat. Hal ini telah ditunjukkan oleh Alquran dalam banyak tempat. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah/2:45).

Maksudnya, mintalah pertolongan dalam menggapai semua keinginan dan dalam semua kondisimu dengan kesabaran. Dengan kesabaran, seorang hamba akan mudah melakukan perbuatan taat, ringan dalam menunaikan hak-hak Allah Azza wa Jalla dan hak-hak sesama. Dengan kesabaran, seseorang dengan mudah meninggalkan semua hal yang diharamkan yang diinginkan oleh nafsunya. Kesabaran akan menghalangi nafsunya dari hal-hal yang diharamkan karena takut siksa dan dalam rangka menggapai ridha Allah Azza wa Jalla. Dengan kesabaran, ketika seseorang ditimpa musibah atau sesuatu yang tidak dia harapkan dan sukai, maka akan terasa ringan.

Namun kesabaran ini memiliki sarana yang mendasarinya. Kesabaran tidak mungkin terealisasi kecuali sarana dan alatnya itu ada. Sarana ini adalah mengetahui hal yang akan dihadapi atau yang dilakukan dengan sabar juga mengetahui keutamaan serta manfaat-manfaat yang akan dipetiknya dari sesuatu tersebut. Ketika seorang hamba mengetahui faidah yang akan didapatnya dari perbuatan taat berupa keimanan yang bertambah, kebaikan hati serta keutamaan yang semakin sempurna, juga berbagai kebaikan dan kemuliaan yang akan muncul darinya, maka tentu dia akan bersabar melakukannya. Begitu juga, jika seseorang mengetahui bahaya dan kehinaan yang akan menimpanya akibat dari melanggar hal-hal yang diharamkan serta berbagai akibat buruk yang menyertainya; tentu dia akan mudah untuk bersabar dalam menghadapi semua keadaan yang berat sekalipun.

Dengan uraian di atas kita mengetahui keutamaan ilmu. Ilmu merupakan sumber semua keutamaan. Oleh karena Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalam banyak ayat bahwa penyebab dari penyimpangan orang-orang yang menyimpang itu dalam hal ketaatan, maksiat dan taqdir, tiada lain adalah ketidaktahuan mereka atau minimnya pengetahuan mereka tentang tiga hal tersebut.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir/35:28)

Juga firman-Nya :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.” (an-Nisa’/4:17)

Bukannya mereka tidak mengetahui bahwa itu perbuatan dosa dan merupakan keburukan, tapi mereka tidak tahu akibat buruk dari dosa-dosa itu sendiri seperti berbagai bahaya serta sekian banyak hal yang bermanfaat akan sirna darinya.

Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa orang yang tidak mengetahui kandungan sesuatu, maka dia tidak akan bisa bersabar padanya. Allah Azza wa Jalla menceritakan peristiwa antara Nabi Musa ‘alaihissallam  yang mengutarakan keinginannya untuk belajar kepada Khidir ‘alaihissallam. Allah Azza wa Jalla ceritakan peristiwa itu dalam firman-Nya :

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا ﴿٦٦﴾ قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ﴿٦٧﴾ وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

Musa Berkata kepada Khidhr, “Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?” (al-Kahfi/18:66-68)

Ketidaktahuan Musa ‘alaihissallam menyebabkan dia tidak bisa bersabar, meskipun dia kuat, tapi saatnya pasti dia tidak akan mampu lagi bersabar.

Allah Azza wa Jalla menjelaskan keagungan dan kebenaran Alquran :

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu. (Yunus/10:39)

Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa orang yang mendustakan Alquran itu disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap Alquran dengan benar. Seandainya mereka mengetahuinya dengan benar, maka pasti mereka sudah mengimaninya. Meskipun hujjah itu sudah tegak atas mereka, namun mereka belum memahaminya dengan benar

Allah juga menceritakan para pembangkang yang sudah jelas mengetahui kebenaran Alquran. Allah Azza wa Jallaberfirman :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (An-Naml/27:14)

Juga firman-Nya.

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ ﴿٣٣﴾ وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah Azza wa Jalla kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (Al-An’am/6:33-34).

Maksudnya, Allah Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada para hamba Allah Azza wa Jalla untuk memohon pertolongan dalam menghadapi semua urusan mereka dengan cara bersabar. Allah Azza wa Jalla juga menunjukkan cara untuk menggapai kesabaran yaitu dengan memperhatikan hal-hal yang dihadapinya, mengetahui hakikatnya, keutamaannya dan jika itu sebuah keburukan, maka dia harus mengetahui keburukan dan kehinaannya.

Kesabaran adalah sikap terbaik dimiliki seseorang dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Dan tingkat kesabaran seseorang berbanding lurus dengan ilmu yang ia miliki tentang apa yang Allah sediakan bagi mereka yang bersabar. Ilmu itu akan melahirkan keyakinan. Dan keyakinan itu akan terefleksikan dalam bentuk kesabaran.
Artikel www.KhotbahJumat.com

pic

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *