Telling Islam To The World – Part 6

Telling Islam to the world- enam
Imam Shamsi Ali*

Komunikasi

Komunikasi adalah satu dari elemen-elemen dasar hidup manusia . Salah satu hal yang membedakan antara seorang manusia dan seekor hewan misalnya adalah bagaimana mengkomunikasikan suatu hal dalam kehidupannya.

Di awal S. Ar-Rahman Allah menyebutkan 4 elemen dasar kehidupan. Pertama, adalah “Arrahman” (kasih sayang) Allah. Bahwa tidak satu makhluk bisa hidup tanpa kasihNya yang memiliki langit dan bumi. Tidak seorang di antara kita bisa merasakan lezatnya hidayah tanpa kasih sayang Allah. Bahkan pada akhirnya tak satupun di antara kita yang akan masuk syurga jika bukan karena “rahmah” Allah SWT.

Kedua, adalah “allamal Qur’an“. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dibangun di atas asas hidayah (petunjuk). Dan Al-qur’an adalah sumber petunjuk dalam menjalani kehidupan itu.

Ketiga, “khalaqal insan“. Yaitu kesadaran akan diri sendiri. Yang diciptakan secara unik, khusus atau dalam bahasa Al-quran: khalaqtuhi biyadayya (Aku ciptakan dengan TanganKu). Dengan tujuan khusus dan dengan kemuliaan.

Keempat, “allamahul bayaan” (mengajarkan komunikasi). Dan inilah poin kita kali ini. Artinya bahwa kasih sayang Allah, Al-quran, dan kemanusiaan itu hanya akan efektif dalam kehidupan jika manusia sebagai makhluk sosial mampu membangun komunikasi secara baik dan benar. Tentu komunikasi ini dalam dua arahnya: hablun minallah dan hablun minannaas (vertikal dan horizontal).

Di sinilah kemudian disimpulkan bahwa komunikasi dalam dakwah menjadi sangat krusial dan menentukan. Jika IQRA mengawali perjalanan dakwah maka “al-bayaan” atau komunikasi menjadi jembatannya. Jika jembatan rapuh maka besar kemungkinan dakwah itu akan ambruk dan terjatuh di tengah perjalanan.

Rasulullah SAW adalah the “best communicator”. Di dalam mendakwahkan agama ini beliau memakai komunikasi sederhana, tapi efektif dan mengena.

Ambillah salah satu peristiwa sebagai misal. Suatu ketika ada seorang anak muda mendatangi beliau. Dan dengan terbuka dan tanpa malu meminta izin kepada rasul SAW untuk berzina. Tentu sikap ini sangat tidak sopan, khususnya kepada rasulullah SAW yang memiliki posisi mulia di sisi Allah.

Mendegar itu beliau mengajak pemuda itu mendekat, lalu ditanya: “apakah ada tante, saudari atau ibu?”

Pemuda menjawab: “saya ada tante, saudari dan ibu”.

Baginda rasulullah SAW kemudian menyampaikan “pelajaran” kepada pemuda itu dengan bertanya: “apakah kamu mau jika ada seorang pria melakukan itu kepada ibu, saudari atau tante kamu?”.

“Tidak!”, jawab pemuda itu tegas.

Rasul kemudian meminta pemuda itu mendekat, lalu beliau meletakkan tangannya di dadanya mendokan: “ya Allah bersihkan hatinya karena Engkau adalah sebaik-baik siapa yang membersihkan jiwa manusia”.

Menurut riwayat sejak itu pemuda itu menjadi salah seorang pemuda dan Muslim yang taat kepada Allah SWT.

Maka komunikasi yang tepat itu cukup menentukan kesuksesan dakwah.

Ibarat restoran, terkadang makanannya biasa-biasa. Tetapi cara pelayan menghadapi para tamu, dengan komunikasi yang ramah dan nyaman mereka betah dan ingin kembali lagi ke restoran itu. Sebaliknya walau makanannya enak tapi pelayannya berkata kasar dan tidak ramah, besar memungkinan para tamu itu tidak lagi berkunjung.

Komunikasi “bolduzer” (pukul rata) dalam dakwah akan lebih banyak merusak (destruktif) ketimbang membangun. Sebaliknya komunikasi dakwah yang tepat dengan membangun, atau memperbaiki bagian dari bangunan yang sudah ada. Bukan merobohkan semua dengan harapan membangun kembali dari awal.

Mungkin contoh lain dalam komunikasi rasulullah adalah kasus seorang sahabat (nampaknya pengantin baru) yang melanggar larangan berhubungan badan (jima’) di siang hari di bulan Ramadan.

“Saya celaka ya Rasulullah”, katanya.

“Kenapa celaka?”, tanya baginda Rasul.

“Waqa’tu alaa imraati”, (saya terjatuh ke atas isteriku alias berhubungan dengan isteri), jawabnya.

Rasulullah SAW kemudian mengatakan: “bebaskan budak, atau beri makan 60 orang miskin, atau berpuasalah dua bulan berturut-turut”.

Saya tidak bermaksud meneruskan cerita itu. Tapi intinya adalah perhatikan bagaimana reaksi dan komunikasi yang rasulullah SAW lakukan terhadap seseorang yang bersalah. Tidak saja bahwa beliau menyampaikan respon dengan penuh kesantunan. Tapi lebih dari itu beliau mengkomunikasikan Islam atau hukum Islam dengan penuh kesederhanaan, dan dengan memberikan “way out” (jalan keluarnya).

Keseluruhan cerita mengenai hal di atas menggambarkan kelihaian komunikasi sekaligus kelembutan hati dan sikap beliau kepada umatnya. Mungkin dalam bahasa Al-Qur’an bahwa rasul itu adalah sosok yang “rauuf rahim” (lembut hati dan penyayang).

Berbeda mungkin dengan cara sebagian orang yang ketika ada orang bersalah maka akan langsung disalahkan. Bahkan mungkin akan langsung divonis sebagai orang jahat, bahkan penghuni neraka.

Komunikasi rasul di atas adalah komunikasi kasih sayang. Komunikasi yang dibangun di atas dasar kasih dan cinta, serta harapan. Sehingga ketika seorang bersalah bukan merasa minder atau putus harapan, bahkan boleh jadi membenci. Tapi kembali menumbuh suburkan rasa cinta kepada kebenaran. Termotivasi untuk kembali menerima kebenaran, dan cinta dengan kebenaran.

“Kalau saja kamu kasar dan keras hati, niscaya mereka akan menjauh darimu”.

Demikian Allah mengingatkan rasulNya. Dan ini pula yang disadari oleh gerakan Telling Isam to the world. Sehingga pilihan komunikasi yang sesuai bukan sekedar penting. Tapi menjadi bagian dari kebutuhan mendasar di jalan dakwah.

Bersambung

* Presiden Nusantara Foundation

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *