Penyakit Lupa dan Lalai

Manusia itu sungguh luar biasa. Allah ﷻ telah menciptakan mereka. Memberikan mereka perbedaan dalam sifat, penampilan, dan keadaan. Yang semuanya memperlihatkan ke-Maha Mampuan Allah. dan kita manusia adalah makhluk yang lemah.

Banyak ayat-ayat dalam Alquran, yang apabila kita tadabburi, maka kita temui makna semisal ini. Mengajak kita merenungi dan menyadari tentang tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ pada diri kita. Di antaranya adalah firman Allah ﷻ,

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS:Adz-Dzaariyat | Ayat: 21).

Di antara ciri khas manusia yang sering diulang-ulang Alquran penyebutannya adalah sifat pelupa. Tentu kita sama-sama mengetahui, sebab yang mengeluarkan ayah kita, Nabi Adam ‘alaihissalam, dari surga adalah lupa. Lupa dengan janji ilahi.

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS:Thaahaa | Ayat: 115).

Ayah kita diciptakan dengan sifat lupa, demikian pula kita sebagai anaknya. Sama.

Karena sifat lupa ini merupakan tabiat manusia, maka di antara perwujudan rahmat Allah ﷻ adalah Dia tidak mencatatkan dosa terhadap manusia atas apa yang mereka lakukan karena lupa.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah”. (QS:Al-Baqarah | Ayat: 286).

Walaupun lupa adalah tabiat manusia, Alquran selalu membimbing manusia, menerangi hati dan akal mereka. Agar manusia tidak lupa tentang sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Bahkan ketika manusia melupakannya, maka ia berada dalam seburuk-buruk keadaan. Apa itu? Ketika manusia lupa akan hak Allah atas diri mereka. Maka manusia akan terjerembab dalam seburuk-buruk keadaan. Allah ﷻ berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 65).

Mengapa hal ini dikatakan sangat buruk? Ingatlah berulang kali kita sakit. Berulang kali kita ditimpa kesempitan, kesedihan, dan musibah. Berulang kali kesulitan-kesulitan menggencet kita. Kemudian saat itu kita berdoa. Lalu Allah ﷻ beri kesembuhan. Allah jaga dan selamatkan dari mara bahaya. Allah lapangkan yang sempit dan beri jalan keluar. Dia sama sekali tidak melupakan kita di saat kita kesulitan. Lalu apakah kita layak melupakan-Nya saat kita lapang?!

Allah ﷻ berfirman,

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.” (QS:Az-Zumar | Ayat: 8).

Tidaklah selamat dari keadaan demikian kecuali orang-orang yang Allah ﷻ sifati dengan firman-Nya,

ولا ينجو من هذه الحال إلا من وصفهم الله بقوله: {إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32) وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34) أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ (35)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (QS:Al-Ma’aarij | Ayat: 19-35).

Musibah yang lebih besar dari ini adalah sebagian orang yang dikepung musibah dari berbagai sisi. Bencana menimpanya silih berganti. Namun dia tetap lupa akan Allah ﷻ. Ia tidak meragukan takdir Allah, hanya saja lemahnya iman membuat semuanya terlupa.

Janga sampai kita termasuk orang-orang yang lupa dan lalai. Lupa dan lalai kepada Allah dan hak para makhluk-Nya. Jika kita lupa akan hak Allah ﷻ, maka solusinya adalah dengan banyak tadabbur dan mengingat Allah. Hal ini akan menjauhkan kita dari sifat lalai dan lupa. Allah ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 41).

 

Ketika kita sudah mengetahui bahwa sifat lalai dan lupa itu tercela, maka Allah Yang Maha Sempurna sangat jauh dari sifat ini.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (QS:Maryam | Ayat: 64).

Apabila ada lafadz di dalam Alquran yang menyebutkan Allah lupa terhadap suatu kaum, maka artinya adalah Allah meninggalkan mereka. Allah ﷻ tidak lagi melindungi mereka. Dia serahkan mereka pada diri mereka sendiri. Ini adalah sebuah kehinaan dan puncak kerugian.

Allah ﷻ berfirman tentang orang-orang munafik,

نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS:At-Taubah | Ayat: 67).

Allah ﷻ tinggalkan mereka.

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا

Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini.” (QS:Al-Jaatsiyah | Ayat: 34).

Kehinaan apalagi yang lebih besar dari kehinaan ini? Seseorang diserahkan pada diri mereka sendiri dan Allah meninggalkan mereka. Semoga Allah melindungi kita dari yang demikian.

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Dengarlah ucapan Imam Ibnu Rajab rahimahullah berikut:

“Barangsiapa yang mengingat Allah saat mereka sehat dan dalam keadaan lapang. Dan pada saat itu mereka mempersiapkan diri untuk hari perjumpaan dengan Allah ﷻ. Yakni kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Maka Allah akan mengingat mereka saat dalam keadaan sulit itu. Dia bersama mereka dalam kondisi tersebut. Dia akan bersikap kasih, menolong, dan membantu mereka. mengokohkan mereka dalam tauhid. Sehingga mereka bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah ridha. Barangsiapa yang melupakan Allah saat sedang sehat dan lapang. Tidak pula bersiap untuk hari perjumpaan dengan-Nya. Maka Allah akan melupakannya dalam kondisi sulit tersebut. Dan tidak mempedulikannya.”

Bersungguh-sungguhlah memperbaiki hati. Sebelum kematian menjadi kenyataan. Apakah kita termasuk orang yang mengingat Allah sehingga Dia mengingat kita? Ataukah termasuk orang yang melupakan-Nya sehingga Dia melupakan kita?

Hisablah amalan kita saat ini. Apakah amalan tersebut termasuk yang Dia ridhai atau murkai?

 

*****

Sumber:

KhotbahJumat.com

PIC

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *