Telling Islam To The World – Part 2

Telling Islam To The World – part 2
Oleh: Imam Shamsi Ali*

 

Kenyataan menunjukkan bahwa di balik berbagai rintangan dan tantangan, perkembangan Islam tidak bisa terbendung lagi. Meskipun di dera badai Islamophobia dan sentimen anti Islam di dunia – khususnya di dunia Barat, Islam tetap eksis sebagai agama dengan perkembangan terpesat.

Di Amerika misalnya, pertumbuhan Islam sejak terjadinya serangan terorisme 9/11 tahun 2001 silam naik 4 kali lipat dibandingkan sebelum peristiwa tersebut. Beberapa estimasi mengatakan bahwa konversi non Muslim Amerika yang masuk ke agama Islam diperkirakan mencapai 20.000 hingga 40.000 pertahun.

Sebuah contoh perkembangan Islam yang tidak bisa dibendung bisa dilihat pada kota New York. Pada pasca 9/11, New York dikenal sebagai jantung kapitalisme dunia, kota atau ibukotanya dunia. Di kota inilah berdiri kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, pusat transaksi keuangan dunia (Wall Street), dan pusat bank-bank dunia, termasuk Citibank, Chase, dll.

Sejak terjadinya serangan terorisme ke jantung dunia itu, yang awalnya diramalkan sebagai kuburan Islam, ternyata Islam berkembang tanpa terhalangi. Kasus-kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap Islam ternyata menjadi pemacu laju perkembangan Islam itu sendiri.

Satu cerita favorite saya sebagai ilustrasi bagaimana realita Islam pasca 9/11 adalah cerita menyangkut Bob (Bobby) sebagai berikut:

Empat hari setelah serangan WTC saya diundang oleh kantor walikota New York untuk membaca doa atas nama komunitas Muslim di sebuah acara di downtown kota Manhattan. Setelah giliran saya membaca doa, tiba-tiba saya didatangi oleh seorang berkulit putih, berambut pirang, yang mengenakan baju kaos. Sambil mengulurkan tangan, beliau berbisik: “I am a Muslim too.”

Terus terang mungkin karena level kecurigaan umumnya pada saat itu begitu tinggi, saya pun juga menjadi curiga. Apa benar dia Muslim? Atau hanya berpura-pura untuk mendapatkan akses dan mengikuti saya?

Setelah acara selesai, saya tarik Bob ke samping ruangan dan bertanya: “When did you become a Muslim”?

Saya semakin terkejut dengan jawabannya: “Just yesterday.”

Saya masih setengah percaya. Lalu saya tanya: “What really attract you to this religion?” Maksud saya adalah dalam suasana Islam dibenci, dicuriga, dianggap sumber terorisme, kok beliau bisa tertarik untuk masuk Islam?

Bob kemudian menceritakan bahwa 4 hari lalu, di saat terjadi serangan itu, dia mendengar salah seorang penyiar CNN mengatakan: “Kalau anda mau tahu inspirasi serangan ini, bacalah the Koran (Al-Quran)”.

Dia kemudian mencari dan membeli Al-quran untuk satu tujuan: “To find where terror is located in the Quran.”

Alhamdulillah, Allah berkehendak lain. Selama dua hari mencari kata terror dalam Al-quran itu, Bobby menemukan hal lain yang tidak ia sangka sebelumnya. Menurut penuturannya, “Semakin saya cari terror dalam Al-Quran, justru saya semakin menemukan mutiara-mutiara hidup (jewels of life).” Hal itulah yang kemudian menjadikan Bobby tersungkur bersujud di hadapan kebenaran Ilahi. Allahu Akbar!

 

Ikut membentuk warna dunia

Apa yang sedang kita saksikan di hadapan mata adalah bagian dari hiruk pikuk dunia global dalam pertarungan. Peperangan yang sesungguhnya bukan dengan bom atau drones lagi. Bom atau drones hanya bagian kecil dari peperangan yang sedang kita hadapi. Inilah sesungguhnya yang digambarkan di Surat As-Shof: “Sesungguhnya Allah mencintai mereka yang berperang di jalanNya dalam kesatuan baris yang kokoh”.

Peperangan yang terjadi sekarang adalah peperangan untuk memenangkan “pengaruh” (kekuasaan) dalam segala bidang, termasuk dalam image dan persepsi. Oleh karena Islam itu indah dan cantik, maka yang diusahakan semaksimal kemampuan mereka adalah merusak citranya. Dan cara satu-satunya yang bisa dilakukan adalah melalui “realita” pengikutnya di lapangan.

Maksud saya, salah satu peperangan terberat umat saat ini adalah peperangan image dan persepsi. Dan dalam dunia keterbukaan, khususnya media, hanya satu hal yang bisa dilakukan, yaitu mengambil bagian dalam peperangan itu dan siap berkompetisi serta memenangkannya.

Gerakan “Telling Islam to The World” sesungguhnya dibentuk sebagai bagian dari itikad dan komitmen, atau mungkin juga impian besar untuk mengambil bagian dalam peperangan itu. Peperangan yang sangat menentukan, dimana pemenangnya adalah penentu bagaimana wajah dunia kita dalam tahun-tahun mendatang.

Pada saat ini, dalam suasana Timur Tengah yang semakin kelam, larut dalam konflik internal, baik sesama suku maupun sesama iman, dunia telah kehilangan harapan untuk bangkitnya Islam dari belahan dunia tersebut.

Di sinilah seharusnya Indonesia, sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, berperan mengambil langkah-langkah penting untuk menyelamatkan dunia Islam dari kehancurannya. Semua itu dapat dimulai dengan mengambil peran aktif dalam membentuk wajah Islam yang sesungguhnya, yaitu wajah Islam yang ramah, bersahabat, tidak menakutkan. Wajah Islam yang menjadi penarik bagi dunia Barat dan peradaban manusia.

Indonesia masih memiliki kredibilitas dan nama baik untuk membuktikan bahwa Islam yang sesungguhnya bukanlah ancaman bagi orang lain maupun peradaban. Justru sebaliknya, Islam adalah partner dalam mewujudkan dunia yang lebih baik dan membangun peradaban yang lebih baik lagi bagi kehidupan manusia.

Islam yang seperti itulah Islam yang sesungguhnya. Islam yang berwajah cantik. Islam yang didambakan seluruh umat manusia. Islam yang memang datang tidak ekslusif untuk kelompok manusia tertentu, melainkan untuk semua manusia dan alam semesta, bahkan yang tidak mengimaninya sekalipun.

Itulah Islam dengan karakternya yang “rahmatan lil-alamin”.

Dan itu pulalah cita-cita dan impian besar gerakan “Telling Islam to The World”. Gerakan ini dimotori bersama oleh Nusantara Foundation, Dompet Dhuafa, Urban Syiar Project, didukung oleh Elhijab (Elzatta), DAQU, ICM, FKCA dan lain-lain. Semoga semua tergerak dan melihat gerakan ini sebagai peluang (opportunity) di tengah-tengah tantangan besar (challenges) yang umat sedang hadapi. Amin!

New York, 5 Januari 2016

* Presiden Nusantara Foundation, USA

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *